
Jakarta, elprovideolabs Indonesia
—
Perusahaan perfilman di
Hollywood
semakin banyak yang tutup. Teranyar, ada Shadowcast Pictures yang berkecimpung sebagai penyewaan peralatan produksi selama dua dekade terakhir.
Perusahaan penyedia kamera, pencahayaan, serta berbagai perlengkapan perfilman untuk film, acara televisi, dan iklan ini harus gulung tikar setelah bertahun-tahun berjuang menghadapi gejolak industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan tersebut menambah daftar panjang perusahaan produksi Hollywood yang berhenti beroperasi dalam beberapa waktu terakhir.
Kebangkrutan Shadow Pictures turut menandai krisis yang terjadi dalam industri produksi film dan televisi di California. Kondisi tersebut semakin diperparah saat menurunnya aktivitas produksi di Los Angeles, serta meningkatkan penggunaan AI dalam kerja perfilman.
Pemilik perusahaan, Jay Ellison mengaku bisnisnya tidak pernah benar-benar pulih akibat pandemi Covid-19.
“Saya tidak pernah membayangkan industri film yang selama lebih dari 100 tahun begitu menguntungkan dan memiliki sistem yang hampir tanpa cela bisa runtuh begitu saja,” kata Ellison seperti diberitakan
New York Post
pada 25 Juni.
Kehancuran Shadowcast Pictures turut dipengaruhi oleh aksi mogok kerja penulis dan aktor Hollywood pada 2023. Selain itu, meningkatnya penggunaan AI dalam proses pembuatan film turut menekan aktivitas produksi.
“AI pada dasarnya sudah menggantikan latar belakang, pencahayaan, bahkan kostum dan wardrobe dalam beberapa situasi,” ujar Ellison. “Semuanya kini diubah dan dimanipulasi oleh AI.”
Shadowcast Pictures, yang dimiliki dan dikelola secara independen oleh Ellison, menjadi bisnis pendukung produksi terbaru yang gulung tikar seiring semakin banyaknya pekerjaan produksi yang berpindah keluar California.
Menurut laporan CBS Los Angeles, lebih dari 80 perusahaan jasa pendukung produksi film dan televisi di Los Angeles telah tutup sejak 2022.
Salah satunya adalah Faux Prop House, perusahaan penyewaan properti film yang telah lama beroperasi dan akhirnya menutup usahanya pada 2025 karena penurunan tajam produksi lokal.
Pengacara industri hiburan, Jonathan Handel, memperingatkan bahwa kesulitan yang dihadapi industri ini tidak hanya berdampak pada studio Hollywood, tetapi juga ribuan bisnis lain di seluruh California Selatan yang bergantung pada aktivitas produksi film dan televisi.
“Ini bukan hanya masalah bagi industri hiburan,” kata Handel kepada CBS Los Angeles.
“Ini adalah masalah bagi perekonomian Los Angeles secara keseluruhan. Pemerintahan wali kota berikutnya dan gubernur berikutnya harus menanganinya dengan sangat serius.”
Sementara itu, para legislator California telah memperluas Program Insentif Pajak Film dan Televisi negara bagian sebagai upaya menarik kembali produksi yang berpindah ke negara bagian lain maupun ke luar negeri. Namun, banyak pelaku industri menilai insentif tersebut belum mampu menghentikan arus perpindahan produksi.
Negara bagian seperti Georgia, New Mexico, dan New York, serta negara-negara seperti Kanada dan Inggris, masih terus menarik proyek-proyek produksi besar berkat insentif pajak yang kompetitif dan infrastruktur produksi yang telah mapan.
“Situasinya sangat sulit. Begitu bisnis berpindah dan bertahan cukup lama di tempat lain, wilayah tersebut akan membangun modal fisik dan sumber daya manusia mereka sendiri, termasuk kru yang sudah terlatih,” kata Handel.
“Akibatnya, jauh lebih sulit membawa bisnis itu kembali dibandingkan mencegahnya pergi sejak awal,” lanjutnya.
Di tingkat federal, para anggota parlemen Amerika Serikat juga sedang mempertimbangkan usulan pemberian insentif pajak produksi film dan televisi secara nasional yang dapat dikombinasikan dengan insentif dari masing-masing negara bagian.
Langkah tersebut bertujuan mendorong lebih banyak proyek film dan televisi agar tetap diproduksi di Amerika Serikat.
(van/end)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video elprovideolabs]
Baca lagi: Ongkos Verifikasi Wajah Nomor HP Kena Rp3 Ribu, Asosiasi Minta Diskon
Baca lagi: Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp17.851 per Dolar AS Sore Ini
Baca lagi: Hasil Piala Dunia 2026: Gol Injury Time, Brasil Lolos ke 16 Besar




9 Responses
Artikel ini tidak sekadar menggoreskan kata, tapi benar-benar mengukir pemahaman baru di benak saya http://www.kufirst.center.ku.ac.th/9824/ bagian isi nya pun mudah dipahami
Saya menghargai cara penulis menjelaskan topik ini dengan sederhana. Kebetulan saya juga membaca informasi dari https://supplyautonomy.com/king88comguru.vn/sw.
Asli, awalnya bingung tapi abis baca ini jadi langsung connect. Eh sekadar sharing, di https://tomes.tchncs.de/user/bong88living juga ada ulasan yang se-tipe dan seru buat nambah referensi.
Artikel ini memberikan kerangka berpikir yang sangat jernih untuk menyikapi isu yang fenomenal dan penting http://www.kufirst.center.ku.ac.th/category/activities/page/10/
Pembahasan yang mencerahkan! Untuk pembaca lain yang mungkin membutuhkan literatur tambahan dengan tema yang sama, silakan kunjungi https://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=539.
Saya jadi lebih paham setelah membaca artikel ini. Kebetulan saya juga menemukan https://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=1115 yang membahas topik serupa dengan cukup lengkap.
Penjelasan di sini gampang banget dicerna dan to the point. Kalau ada yang mau cari sudut pandang tambahan seputar tema ini, coba deh mampir ke https://magic.ly/ammey/oT-Payment-Ecosystem juga.
Pembahasan yang mencerahkan! Untuk pembaca lain yang mungkin membutuhkan literatur tambahan dengan tema yang sama, silakan kunjungi https://www.buzzbii.com/epicureannycom?lang=italian.
Apresiasi saya untuk penulis karena telah menyajikan informasi yang sangat berharga. Saya turut melampirkan https://xtremepape.rs/members/epicureannycom.513108/about yang kebetulan memiliki muatan informasi sejenis untuk memperkaya literatur kita.